Sebenarnya masyarakat sudah mengetahui bahwa Negara kita rentan akan gempa bumi, karena memiliki 4 zona patahan yang secara langsung merespon terjadinya gesekan pada patahan yang mengakibatkan gempa bumi. Dan saya tidak membahas mana saja zona dan batasannya, silahkan para Ahli Geologi saja yang lebih paham. Gempa bumi akan memberikan pengaruh tanah di bawah bangunan dan sekitarnya tergoncang dan bergerak secara “acak-acakan” (random). Percepatan tanah terjadi dalam tiga dimensi membentuk kombinasi frekuensi getaran dari 0,5 Hertz sampai 50 Hertz. Logikanya jika bangunan kaku (rigid) terhadap tanah akan tetap bergeser walau cuma sedikit (cm)dan tidak membahayakan bangunannya karena gerakan bangunan mengikuti gerakan tanah, gaya tersebut disebut gaya inersia. Gaya inersia yang menahan percepatan tanah akan bekerja ada tiap-tiap elemen struktur dari bangunan selama gempa mengguncang. Besarnya gaya-gaya inersia ini tergantung dari berat bangunan, logikanya semakin ringan berarti semakin kecil gaya inersia yang bekerja dalam elemen struktur.
Tanggungjawab sebagai praktisi yang berkecimpung dalam industri konstruksi adalah bagaimana mendirikan bangunan yang layak sehingga mampu berdiri merespon terhadap gaya inersia yang terjadi. “Walaupun pada dasarnya ini hanyalah usaha dalam bidang konstruksi untuk menanggulangi, dan ketika gempa terjadi pada dasarnya semua yang ada di muka bumi dalam kuasa Ilahi”.
Kemudian bagaimana prinsip Konstruksi Tahan Tanggap Gempa:
-Denah Sederhana dan Simetris; Kerusakan gempa mengarahkan pentingnya Denah Bangunan yang sederhana dan elemen-elemen struktur penahan gaya horizontal yang simetris. Struktur yang seimbang “simetris” dapat merespon gaya gempa lebih tinggi karena kekuatan dan beban yang di salurkan lebih merata.
-Bahan Bangunan yang Ringan; Kenapa harus ringan? karena besarnya beban inersia gempa adalah sebanding dengan berat bahan bangunan. Sebagai contoh logikanya begini, penutup atap menggunakan genteng tanah menghasilkan beban gempa horizontal sebesar 3x bebannya bila dibanding dengan bahan seng.
-Sistem Konstruksi merespon Gaya Horizontal; Suatu bangunan dapat merespon gempa, yaitu gaya inersia gempa harus dapat disalurkan dari tiap-tiap elemen struktur ke struktur Utama gaya horizontal yang kemudian memindahkan gaya-gaya ini ke pondasi terus ke tanah “menerus”.
Jadi logika bahwa elemen struktur utama penerima gaya horizontal haruslah lebih kenyal, karena dengan sifatnya yang elastis maka keruntuhan yang bersifat getas tidak akan terjadi. walaupun ada beberapa tempat yang mengalami “lelah” lebih cepat. Tiap-tiap bangunan harus memiliki jalur lintasan gaya yang cukup untuk dapat menahan gaya horizontal, misalnya begini, beban dari atap tersalurkan ke balok atas-ke kolom-kemudian terasalurkan ke balok bawah-ke pondasi-terakhir ke tanah.
Dari uraian diatas, goncangan gempa dan cara menghitung harga pembebanan untuk suatu bangunan, dapat disimpulkan bahwa :
- Kekenyalan struktur sangat ditekankan sekali untuk mencegah keruntuhan bangunan.
- Gaya gempa hanya dapat ditahan oleh sistem struktur yang menerus (jalur lintasan gaya yang menerus) dari puncak bangunan sampai ke tanah.
Referensi:
- A.W. Charleson, M.E., MNZIE. “KONSTRUKSI RUMAH TAHAN GEMPA DI INDONESIA”.
