Building’s Article
KAMPUNG NAGA
Gambar 01. Pemandangan Kampung Naga
ASAL USUL
Sejarah/asal usul Kampung Naga menurut salah satu versi nya bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga.
Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga “Sa Naga” yaitu Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya.
Namun kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya. Menurut kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa meninggalkan jasad. Dan di tempat itulah masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan Masyarakat Kampung Naga.
Ada sejumlah nama para leluhur masyarakat Kampung Naga yang dihormati seperti: Pangeran Kudratullah, dimakamkan di Gadog Kabupaten Garut, seorang yang dipandang sangat menguasai pengetahuan Agama Islam. Raden Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti, dimakamkan di Taraju, Kabupaten Tasikmalaya yang mengusai ilmu kekebalan “kewedukan”. Ratu Ineng Kudratullah atau disebut Eyang Mudik Batara Karang, dimakamkan di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, menguasai ilmu kekuatan fisik “kabedasan”. Pangeran Mangkubawang, dimakamkan di Mataram Yogyakarta menguasai ilmu kepandaian yang bersifat kedunawian atau kekayaan. Sunan Gunungjati Kalijaga, dimakamkan di Cirebon menguasai ilmu pengetahuan mengenai bidang pertanian.
Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekolompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leleuhurnya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.
Kampung Naga secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber iarnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda sengked) sampai ketepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melaluai jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.
Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.
____________________________________________________________________________________________
Gedung Konferensi Asia Afrika, 18-24 April 1955
Museum Asia Afrika, Bandung
Masih ingat pelajaran sejarah Indonesia? kalau sudah lupa, mari kita sedikit melongok dengan kejadian sekian tahun silam di era Orde Lama Bung Karno. Pertamanya gedung tersebut diberi nama Gedung Merdeka, setelah sekian lama kurang produktif, maka Prof. Mochtar Kusumaatmadja mengusulkan untuk di jadikan bangunan Museum, yaitu Museum Asia Afrika.
Pendirian museum ini bertujuan untuk mengumpulkan, memelihara, mengolah, dan menyajikan peninggalan-peninggalan dan informasi-informasi yang berkaitan dengan latar belakang peristiwa Konferensi Asia Afrika. Selain itu, pendirian museum bertujuan untuk mendokumentasikan perkembangan kawasan Asia Afrika dari waktu ke waktu, serta memotret aspek sosial, budaya, ekonomi, peran dan percaturan politik Indonesia khususnya dan kawasan Asia Afrika umumnya dalam kancah internasional. inilah yang dinamakan Restorasi Bangunan, yaitu beralih fungsinya bangunan kuno dengan tujuan tertentu tanpa mengubah bentuk , material dan pesona aslinya. Tentunya bangunan sejenisnya banyak Anda temui di berbagai kota besar bersejah lainnya.
Apa yang di exhibisikan? tentunya yang berkaitan dengan Konferensi Asia Afrika dari benda-benda, koleksi foto-foto dan arsip-arsip, karena museum ini telah dikembangkan sebagai pusat studi, edukasi, informasi, dan rekreasi. Museum ini ditunjang dengan ruang pameran modern yang memamerkan sejumlah benda dan foto peninggalan Konferensi Asia Afrika Pertama pada tahun 1955 dan Peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-25 pada tahun 1980. ruang audio visual yang dapat digunakan pengunjung untuk menonton film dokumenter tentang Konferensi Asia Afrika dan negara-negara berkembang lainnya. ruang diorama yang menceritakan bagaimana Presiden Soekarno berorasi saat Konferensi Asia Afrika Pertama digelar pada tahun 1955. Jadi jangan beranggapan bahwa Museum tidak menarik dibandingkan jalan-jalan ke Mall (pusat hiburan). Justru di dalamnya terdapat Ilmu baru yang belum Anda ketahui. Saya jadi punya gagasan, bahwa untuk setiap kota Kabupaten, Lembaga pendidikan setara Universitas, Pusat penelitian tertentu perlu adanya sebuah museum untuk pengembangan ilmu pengetahuan anak bangsa, bukan malah “jor-joran” membangun pusat perbelanjaan skala Gede yang dampaknya signifikan. yah inilah realita negara yang kita cintai.(bukan ekspresi pesimis)
Yang perlu Anda ketahui lagi, Indonesia dimasanya bukanlah negara “tidak penting” untuk kawasan Asia-Afrika, kenapa? Bandung, Indonesia dipilih bukan karena alasan, karena Indonesia memberikan dampak positif untuk negara-negara Pengikut Konferensi. Bangga dengan Indonesia haruslah tertanam dalam sanubari kita sebagai generasi muda Indonesia, untuk tetap selalu membawa diri kita terus berkarya, berjuang, belajar, dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk saudara-saudara kita semua. semangat untuk generasi muda indonesia..
wempi roman, Architect





Dado said
Keberadaan museum sangat penting sekali, karena dengan adanya museum anak-anak bisa mengenal lebih dekat atau jadi tahu sejarah bangsanya sendiri. Secara tidak langsung museum sarana pendidik juga
beterworld said
terimakasih udah mampir mas Dado…
ironis memang, masyarakat kita tidak terlalu tertarik berkunjung ke Museum, karena lebih enjoy ke Mall dan supermarket….mudah2an ada paradigma baru unt sarana pendidikan dimasa mendatang…. Sukses buat Mas Dado….